Sebagai orang tua, saya percaya setiap anak punya cara belajar yang berbeda. Anak saya termasuk tipe yang baru benar-benar fokus kalau ditemani. Jadi, menjelang ujian sekolah, saya memilih meluangkan waktu setiap malam untuk belajar bersama. Rasanya memang melelahkan setelah seharian bekerja, tetapi melihat semangatnya membuat saya ikut bersemangat.
Rutinitas kami dimulai setelah makan malam. Meja belajar dipenuhi buku pelajaran, catatan kecil, pensil warna, dan sesekali laptop yang kami gunakan untuk mencari materi tambahan atau menonton video pembelajaran. Anak saya membaca soal, lalu saya membantu menjelaskan bagian yang belum dipahami.
Awalnya semua berjalan menyenangkan. Kami bahkan sering tertawa ketika ada soal yang jawabannya ternyata berbeda dari dugaan. Saya merasa momen seperti ini bukan sekadar belajar menghadapi ujian, tetapi juga kesempatan membangun kedekatan dengan anak.
Karena ingin hasil belajarnya maksimal, tanpa sadar kami sering belajar hingga larut malam. Kadang baru berhenti ketika jam sudah menunjukkan pukul sebelas, bahkan pernah lewat tengah malam saat materi yang dipelajari cukup banyak.
Saat itu saya belum menyadari kalau kebiasaan sederhana tersebut ternyata mulai berdampak pada kesehatan mata kami.
Mata Mulai Protes
Semakin dekat hari ujian, waktu belajar semakin panjang. Saya bergantian membaca buku, melihat layar laptop, lalu kembali membuka catatan. Mata terus bekerja tanpa banyak jeda.
Suatu malam saya mulai merasa mata SEpet. Rasanya sedikit gatal dan tidak nyaman. Saya pikir mungkin hanya karena mengantuk, jadi saya memilih melanjutkan belajar.
Tidak lama kemudian muncul sensasi PErih. Saya jadi lebih sering berkedip dan sesekali memijat pelan area sekitar mata. Namun, karena anak masih semangat belajar, saya tetap bertahan menemaninya.
Yang paling terasa justru menjelang akhir sesi belajar. Mata mulai LElah dan berat. Huruf-huruf di buku terlihat kurang fokus, sementara layar laptop terasa semakin silau. Akibatnya, saya justru jadi sulit berkonsentrasi saat membantu anak mengerjakan latihan soal.
Saat itu saya baru sadar, kalau saya saja mulai kehilangan fokus karena mata tidak nyaman, bagaimana mungkin saya bisa mendampingi anak belajar secara maksimal?
Keesokan harinya saya mencari tahu penyebabnya. Ternyata mata SEpet, PErih, dan LElah merupakan bagian dari Gejala Mata Kering yang sering kali tidak disadari. Bahkan saya cukup terkejut ketika mengetahui bahwa sekitar 4 dari 10 orang pernah mengalami mata kering, tetapi hampir 50% di antaranya tidak menyadari kondisi tersebut.
Saya merasa sangat relate. Selama ini saya selalu menganggap gejala SePeLe itu hanya rasa lelah biasa. Padahal, jika terus diabaikan, kenyamanan saat beraktivitas bisa terganggu, termasuk ketika sedang mendampingi anak belajar menghadapi momen penting seperti ujian.
Sejak saat itu, kami mulai mengubah kebiasaan belajar di rumah. Kami membuat jeda istirahat setiap 20–30 menit untuk mengalihkan pandangan dari buku maupun layar laptop. Saya juga mengajak anak berdiri sejenak, melakukan peregangan ringan, melihat ke luar jendela agar mata beristirahat, serta memastikan kebutuhan air putih tetap tercukupi.
Perubahan kecil itu ternyata membuat sesi belajar terasa lebih nyaman. Anak lebih fokus, saya pun tidak lagi cepat merasa lelah.
Insto Dry Eyes Jadi Teman Belajar
Selain memperbaiki kebiasaan belajar, saya juga mencari solusi ketika gejala mata kering mulai muncul. Dari rekomendasi teman, saya mengenal Insto Dry Eyes.
Setelah mencobanya, saya merasa Insto Dry Eyes membantu memberikan kelembapan pada mata sehingga membantu meredakan gejala mata kering yang saya alami. Sekarang, botol kecilnya selalu tersedia di meja belajar maupun di dalam tas saya.
Kalau sedang menemani anak belajar cukup lama dan mata mulai terasa SEpet, muncul sensasi PErih, atau mulai LElah, saya cukup Tetesin Insto Dry Eyes sesuai aturan pakai. Setelah itu, mata terasa lebih nyaman sehingga saya bisa kembali fokus mendampingi anak sampai selesai belajar.
Buat saya, keberhasilan anak menghadapi ujian bukan hanya soal nilai yang diperoleh, tetapi juga tentang bagaimana kami bisa menikmati proses belajarnya bersama. Dan ternyata, menjaga kesehatan mata menjadi bagian penting dari proses itu.
Kalau ada pelajaran yang saya dapat, itu adalah jangan menunggu sampai mata terasa sangat tidak nyaman baru mulai peduli. Menjaga kesehatan mata bisa dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti memberi jeda istirahat saat membaca atau menatap layar terlalu lama, menjaga tubuh tetap terhidrasi, dan menyiapkan solusi ketika gejala mata kering muncul.
Yuk, jangan anggap remeh Gejala Mata Kering. Dengan mata yang tetap nyaman, kita bisa mendampingi anak belajar, bekerja, maupun menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih maksimal. Bersama #InstoDryEyes, mari wujudkan #BebasMataKering dan selalu ingat bahwa #MataSePeLeJanganSepelein.
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar